Suka Melayani Masyarakat, Maria Munthe, Wanita Asal Batak Fasih Bahasa Dani
Berprofesi Mantri Hewan, Hingga Beternak Babi Ini Penuturannnya

Oleh : Radar Medan | 08 Apr 2021, 11:15:03 WIB | 👁 1151 Lihat
Nasional
Suka Melayani Masyarakat, Maria Munthe, Wanita Asal Batak Fasih Bahasa Dani

RADARMEDAN,COM, PAPUA - Panas terik menyinari Kota Timika, tepatnya di SP3 Kampung Karang Senang, Distrik Kuala Kencana pada Senin (5/4/2021) sekitar pukul 11.30 WIT ketika seorang wanita turun dari motornya dan bergegas menuju salah satu rumah warga setempat.

Ia kemudian menyapa sang pemilik rumah dengan menggunakan bahasa Dani. Padahal wanita tersebut bukanlah berasal dari Suku Dani. Ia juga bukan orang Papua.

Perawakan wanita tersebut cukup tinggi, berkulit sawo matang, berambut pendek dan berombak. Saat itu ia mengenakan baju biru kehitaman bertuliskan Disnak Keswan Mimika.

“Selamat lingge o (selamat siang) Nonggop wenege (apa kabarnya),” ucap wanita tersebut sambil mulutnya menikmati buah merah.

Sapaan tersebut langsung dibalas dengan bahasa Dani oleh seorang pria yang bernama Kiles Mirip. Sontak mereka pun saling beradu bahasa Dani.

Adalah Sri Maria Natalia Munthe, wanita asal Batak, Sumatera Utara, tepatnya dari Simalungun, Kampung Garingging.

Ia begitu fasih menggunakan bahasa Dani yang dipelajari dari sang suami dan masyarakat Suku Dani.

Maria merupakan Manteri Hewan yang bekerja sebagai tenaga honorer pada Dinas Peternakan Kabupaten Mimika.

Siang itu, Maria hendak melakukan kebiri babi milik Kiles Murib. Tujuan dari kebiri tersebut agar babi bisa bertumbuh dengan sehat dan besar.

Keseharian Maria selain ditugaskan di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Peternakan Babi di SP 6, ia juga melakukan penyuluhan kepada kelompok – kelompok masyarakat lokal peternak babi di area SP 3 hingga ke Jile Ale.

Maria merupakan lulusan DIII di Institut Pertanian Bogor (IPB) jurusan Kedokteran Hewan, program studi Teknisi Reproduksi Satwa. Ia lulus pada tahun 2006. Maria terlihat sangat lihai melakukan proses kebiri dan memberikan suntikan kepada babi.

Kepada Seputarpapua.com usai melayani masyarakat peternak babi di sekitar SP 3, Maria bercerita awal dirinya datang ke Timika pada bulan Desember tahun 2008 silam.

Saat itu ia baru saja selesai melangsungkan pernikahannya dengan dengan sang pujaan hati Wetien Girsang Weya, lelaki dari Suku Dani di Medan, Sumatera Utara.

“Suami saya kebetulan bekerja di PT Freeport Indonesia. Jadi kami setelah menikah terus ke Timika. Kami sempat tinggal beberapa hari di Jakarta. Kami nginap di rumah bapak Danis Kogoya. Saudara dari suami. Saat itu bapak Danis bilang, Maria kau seperti mutiara jadi kalau ke Papua, kau harus pelihara babi,” tutur Maria sambil menirukan ucapan bapak Danis.

“Bapak Danis bilang kekayaan Papua itu ada dua, emas dan Babi. Emas itu ko sudah dapat karena suamimu sudah kerja. Kalau babi itu lambang kejayaan karena dengan pelihara babi tidak akan susah,” ucapnya.

Setibanya di Timika, Maria mulai mempelajari situasi dan kondisi yang potensial. Ia melihat bahwa harga babi di Papua sangat mahal. Apalagi semua acara/pesta pasti menyediakan babi sebagai menu utama.

“Pengucapan syukur saat anak lahir harus ada babi, peresmian gereja harus ada babi, bayar maskawin juga ada babi, bukan hanya satu atau dua ekor melainkan sampai puluhan bahkan ratusan ekor,” jelasnya.

Akhirnya ia pun berpikir untuk memelihara babi, meskipun sempat dilarang suami karena sedang hamil, namun dengan tekad yang kuat, Maria diberikan seekor babi Betina oleh sahabatnya yakni Mikilera Kogoya.

“Jadi saya senang sudah ada babi. Jadi kalau bapa (suami-red) naik kerja itu saya kasih makan banyak-banyak biar cepat besar. Saya buat begitu untuk yakinkan dia (suami) kalau saya bisa pelihara babi,” terangnya.

Babi yang tadinya hanya satu ekor, berkembang seiring berjalannya waktu menjadi 20 ekor.

Dari 20 ekor babi tersebut karena saat itu Maria dan suami tinggal dekat dengan gereja, sehingga Maria menjual sebagian dan menyisahkan tiga ekor. Hasil dari penjualan babi ia kemudian membeli tanah dan membuat rumah yang sekarang ditempati. Rumah tersebut lokasinya agak jauh dari gereja.

“Saya turun dan merasa terpanggil ke masyarakat, awal mula saya punya tanah, punya mobil itu kan dari babi, saya merasa dekat dengan orang Dani karena mereka duluan melayani saya, saya melahirkan mereka yang datang lihat saya, orang tua jauh di Medan, tapi saya tidak pernah merasa sendiri karena mereka ada,” ungkapnya.

Alasan yang membuatnya terpanggil untuk melayani masyarakat adalah karena sahabatnya yang pernah memberinya satu ekor babi membuat ia akhirnya memiliki tanah dan rumah.

“Jadi saya merasa mereka sudah layani saya baik, kebetulan saya punya background ilmu disitu tidak salah saya kembali melayani mereka. Karena saya punya suami juga orang Dani, jadi mari, biar kita jalan kaki kosong, bagaimana tapi saya pelajari setiap perjalanan-pelayanan saya, sampai tau bahasa Dani, berarti Tuhan mau saya dipakai disini,” kata Maria.

Dirinya juga bersyukur karena ia diangkat menjadi tenaga honorer, yang bisa lebih membantunya dalam membina masyarakat.

Setiap hari, Maria pergi bertugas di UPTD SP 6, sampai jam 1 ia pulang ke rumah, mengecek anak – anaknya yang berjumlah tiga orang yakni Gracia Soprania Girsang Weya (13), Ramona Girsang Weya (7) dan Golden Mulia Girsang Weya (4).

“Waktu awal – awal pelayanan yakni tahun 2017 itu saya bisa pulang ke rumah sampai jam 7 malam karena keliling pantau masyarakat punya babi, sekarang sudah agak tenang karena babinya teratur semua, jadi saya hanya tunggu panggilan dari masyarakat saja,” ucapnya.

Dalam melaksanakan tugas, banyak suka dan duka yang dialami Maria. Ia bahkan pernah diusir oleh masyarakat karena belum paham tentang apa yang dikerjakan.

“Sampai pernah karena saya turun turun ke lapangan, saya senang begitu dikira saya foto-foto baru nanti ambil anggaran banyak dari kantor sana, sampai pernah saya diusir juga, tapi saya bilang karena namanya mereka belum mengerti, saya tidak menyerah, sampai saya bilang kamu pergi ke dinas, saya di gaji berapa, pergi cek kesana, tapi lama – lama mereka akhirnya terima,” ujarnya.

Hasil pelayanan yang tulus dari Maria, masyarakat yang tidak memiliki Babi, sekarang sudah mempunyai babi yang cukup banyak.

“Karena pengalaman saya dari hasil jual babi saya bisa beli tanah, jadi itu saya bagi ke mereka karena kita perantau kesini, jadi kita yang beli tanah,” ucapnya.

Dengan menjual babi dan binaan dari Maria, beberapa masyarakat yang sudah maju, ada yang memiliki tanah, rumah, motor bahkan mobil, bisa membiayai anak sekolah dan lainnya.

Masyarakat yang tadinya hanya terkesan bersantai kini sudah bergerak mencari makanan babi, membuat kebun untuk menanam ubi agar babi bisa diberi makan dan hasilnya memuaskan.

“Puji Tuhan, Tuhan berkati kami. Kami ketemu orang yang mau kerjasama, yang kasihan sama kami, bisa cicil tanah jadi semua karena kuasa Tuhan, Tuhan kasihan kami jadi dia tunjukan cara bagaimana kami berkembang, hidup, Tuhan pelihara kami, ada yang dari hasil jual babi ini, sekarang dia sudah punya tanah dengan ukuran yang cukup besar 25 x 200 meter,” cerita Maria dengan semangat.

Maria benar – benar sangat mencintai Papua, dirinya selalu belajar, menyatu serta melayani dengan tulus hati.

“2008 menikah 2010 baru saya bisa bahasa Dani,” ungkap Maria.

“Jadi kaya saya ini masuk ke orang Dani kalau mereka tidak mau bicara dengan saya, berarti bagaimana saya mau dekat dengan mereka,” ujarnya.

Suami Maria selalu mendukung dan membantunya agar bisa fasih bahasa Dani dalam keseharian.

Ia pun setiap hari dekat dengan mama – mama yang notabene tidak terlalu aktif berbahasa Indonesia.

“Saya tidak mengerti, saya pakai bahasa Indonesia, mereka pakai bahasa Dani, pokoknya bicara saja takaruang (sembarang), sambil saya belajar juga. Jadi setiap mereka bicara itu saya lihat dari gerak tubuhnya, lalu saya belajar, kalau mereka nyanyi saya juga ikutan nyanyi,” ucapnya.


Menurut Maria, ia bisa berbahasa Dani bukan karena kehebatanya, namun karena kuasa Tuhan. “Tuhan mau agar saya bisa melayani masyarakat asli khususnya suku Dani agar bisa maju dalam peternakan babi,” pungkasnya.

Maria sudah sangat menyatu dengan masyarakat. Setiap hari ikut berkebun, pikul barang yang dimasukan di dalam noken, itu sudah menjadi kegiatannya sehari – hari.


“Tidak sembarang orang pendatang bisa fasih bahasa Dani, saya percaya ini kuasa Tuhan, Tuhan mau saya ada untuk mereka, melalui ilmu yang saya pelajari hingga nantinya mereka bisa piara babi dengan baik, dan hasilnya memuaskan,” ujarnya.

Awal Bertemu Suami

Jodoh tidak bisa diprediksi, begitu kata Maria. Ia bertemu dengan sang pujaan hatinya yaitu Wetien Girsang Weya pada tahun 2006 silam.

Ia pun tidak menyangka bisa berjodoh dengan Wetien. Perkenalan mereka mulai saat dikenalkan oleh Keponakan dari Wetien yang merupakan adik tingkat dari Maria dibangku kuliah.

“Jadi keponakannya itu adik tingkat saya, jadi ceritanya ini saya mau jodohkan dia (Wetien-red) ke orang lain, tapi bapak ini tidak mau karena saya cerewet, jadi bapak bilang maunya dengan saya, padahal kita bedanya 15 tahun, tapi namanya juga jodoh,” cerita Maria sembari tersipu malu.

Perasaan tentang Papua

Maria mengatakan bagi orang Medan itu Papua itu adalah saudara, sama – sama daerah Kristen, semua penyayang.

Saat ia masuk di Papua terutama saat bergabung dengan suku dari suaminya, menurutnya sama dengan suku Batak.

“Orang Papua itu ada tanta, ada om, ada bapa Ade, orang Batak juga ada tulang, ada nan tulang karena fam (marga), jadi kami juga orang Batak ada fam, jadi untuk masuk pelajari adat orang Dani tidak sulit, karena ada om, orang Dani juga yang paling dihargai adalah om, karena kita keluar dari mama, jadi mama punya orang – orang itu kita hargai,” ungkap Maria.

“Kemudian saya sayang Papua, terutama suami saya, karena saya pacaran dengan bapa (suami) sampai menikah, bapa tidak pernah kasar, sampai saya yang ada saat ini, jadi saya lihat Papua baik itu dari suami saya, Dia tidak pernah bikin saya sedih, tidak pernah marah saya, kalau marah memang namanya berkeluarga, itu biasa, tapi sampai kasar juga dia tidak bisa, bapa juga tidak bisa bicara kasar, dia tidak bisa tipu,” kata Maria.

Menurutnya sifat orang Dani sama dengan sifatnya dimana tidak pernah menyimpan dendam.

Harapan dalam pelayanan

Ia berharap agar dalam pelayanan yang sudah dijalankan bisa membuat masyarakat menjadi mandiri.

“Saya mau lihat babi ini, seperti yang saya dengar, kekayaan Papua itu dua emas dengan Babi. Emas itu kita sudah tau gunung – gunung Papua itu berlapis emas, sementara babi itu seperti ayam, ayam itu telurnya 12 sampai 15, babi juga anaknya 16 sampai 18, jadi bagi saya babi ini ayam kaki empat, bisa selesaikan sekolah anak, kebutuhan mendesak, kita bisa jual babi itu,” kata Maria.q

“Jangan dulu kejar harta itu, tapi kebutuhan-kebutuhan seperti mas kawin, pengucapan syukur lahir anak, baru biaya sekolah anak, kejar itu dulu. Jadi dalam beberapa kegiatan penting ini kita tidak usah beli babi, kan sudah membantu ekonomi keluarga,” kata Maria.

Menurutnya babi ibaratnya mata air, dimana saat kita bertemu mata air di hutan, biasanya air jernih jadi kita membuat baik alirannya agar bisa ditampung.

Begitupun Babi. Babi adalah sumber uang.

“Jadi kita kasih baik kandangnya, kita rawat dia baik, supaya dia beranak dengan baik, sehat, dari situ kita bercita – cita mau bangun rumah mau sekolahkan anak itu babi yang selesaikan,” pungkasnya.

Menurutnya selama pelayanan yang dilaksnaakan masyarakat sudah banyak perubahan yang positif.

Sehingga dirinya berterimakasih kepada pihak Pemda Mimika melalui Dinas Peternakan yang selalu cepat dalam merespon apa yang menjadi permintaan masyarakat.

 

Reporter: Kristin Rejang
Editor: Batt


Artikel ini telah tayang di seputarpapua.com LINK SUMBER : https://seputarpapua.com/view/suka-melayani-masyarakat-maria-munthe-wanita-asal-batak-fasih-bahasa-dani.html/7


TAG : sekitar-kita,nasional


Komentar Facebook

Tuliskan Komentar dengan account Facebook

Kembali Ke halaman Utama

Berita Lainnya:

IMG-20210416-WA0009_compress42.jpg

Orang Hanyut di Pangkatan Belum Ditemukan

🔖 DAERAH 👤Radar Medan 🕔09:56:19, 17 Apr 2021

RADARMEDAN.COM, LABUHANBATU - Arifin Ritonga (36) warga Dusun Kampung Padang, Kecamatan Pangkatan, Kabupaten Labuhanbatu dikabarkan hanyut di Sungai Kundur, Kampung Padang, Kecamatan Pangkatan, Jumat (16/4/2021) sekira pukul 11.30 WIB. Hingga malam belum ditemukan dan masih dalam pencarian. Kanit Reskrim Polsek Bilah Hilir, Iptu Ilham Lubis . . .

Berita Selengkapnya
IMG-20210415-WA0001_compress46.jpg

Rekonstruksi Adik Pukul Abang Hingga Meninggal Dunia Digelar

🔖 HUKUM DAN KRIMINAL 👤Radar Medan 🕔14:13:51, 15 Apr 2021

RADARMEDAN.COM, TAPUT - Peristiwa pemukulan yang dilakukan SN(18)yang mengakibatkan AN(40)tewas ditempat kejadian pada 10 Maret yang lalu. Peristiwa ini terjadi di dusun Pangaloan dua, Desa Paniaran Kecamatan Siborongborong,Taput. Polsek Siborongborong melaksakan gelar rekonstruksi pada Rabu (14/4) pukul 14.30 WIB yang dipimpin langsung oleh . . .

Berita Selengkapnya
FB_IMG_1618403159516_compress7.jpg

Keramba Jaring Apung di Danau Toba Mulai Dibenahi

🔖 DAERAH 👤Radar Medan 🕔19:31:25, 14 Apr 2021

RADARMEDAN.COM, SIMALUNGUN - Kapolda Sumatera Utara, Irjen Pol RZ Panca Putra Simanjuntak, memimpin penataan Keramba Jaring Apung, di Dusun Sualan, Nagori Sibaganding, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Rabu (13/4). Turut mendampingi dalam kegiatan penataan keramba itu, Pangdam I/BB Mayjend TNI Hassanudin, Bupati Simalungun . . .

Berita Selengkapnya
IMG-20210412-WA0031_compress65.jpg

Kemarin Aminah, Kini Irul Yang Kecewa Laporannya di Polsek Bilah Hilir Diduga Mandek

🔖 HUKUM DAN KRIMINAL 👤Radar Medan 🕔07:35:26, 13 Apr 2021

RADARMEDAN.COM, LABUHANBATU - Syahruddin akrab disapa Irul (42) warga Lingkungan Pirbun, Kelurahan Negeri Lama, Kecamatan Bilah Hilir, Kabupaten Labuhanbatu mengaku kecewa karena laporannya di Polsek Bilah Hilir diduga mandek atau belum ada tindaklanjut. Laporan tersebut ia buat pada tanggal 30 Januari 2020 tentang tindakan perbuatan kekerasan . . .

Berita Selengkapnya
IMG-20210409-WA0006_crop_54.jpg

Polisi Tangani Kasus Kuda Lumping di Sunggal Medan

🔖 HUKUM DAN KRIMINAL 👤Radar Medan 🕔18:12:09, 09 Apr 2021

RADARMEDAN.COM - Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Hadi Wahyudi SIK, mengatakan penyidik tengah menangani kasus pembubaran acara Langgem Budoyo di Jalan Merpati, Kelurahan Sei Sikambing B, Kecamatan Medan Sunggal, yang dilakukan oleh Ormas FUI. "Polrestabes telah melakukan penyelidikan terkait kasus keributan pertunjukkan Langgem Budoyo . . .

Berita Selengkapnya
22c95a10-19b0-43fb-88d8-528d43654c4c.jpg

Putra Mantan Sekda Tidak Puas Reka Ulang Pembunuhan Ibunya, Duga Pelaku Tidak Sendirian

🔖 HUKUM DAN KRIMINAL 👤Radar Medan 🕔18:13:20, 08 Apr 2021

RADARMEDAN.COM, Pematangsiantar – Polres Pematangsiantar menggelar rekontruksi kasus pembunuhan Riamsa Nainggolan alias RN (72), istri mantan Sekda Pemko Pematangsiantar di Jalan Medan Area Kelurahan Proklamasi Kecamatan Siantar Barat, Kamis (8/4/2021).  Reka ulang yang dilaksanakan, sebanyak 15 adegan ditampilkan pelaku RP . . .

Berita Selengkapnya
1617630926033.jpg

Suka Melayani Masyarakat, Maria Munthe, Wanita Asal Batak Fasih Bahasa Dani

🔖 NASIONAL 👤Radar Medan 🕔11:15:03, 08 Apr 2021

RADARMEDAN,COM, PAPUA - Panas terik menyinari Kota Timika, tepatnya di SP3 Kampung Karang Senang, Distrik Kuala Kencana pada Senin (5/4/2021) sekitar pukul 11.30 WIT ketika seorang wanita turun dari motornya dan bergegas menuju salah satu rumah warga setempat. Ia kemudian menyapa sang pemilik rumah dengan menggunakan bahasa Dani. Padahal wanita . . .

Berita Selengkapnya
06be54d8-a4c7-4afe-b196-25c3be3ce3ff.jpg

Lamhot Saragih Terpilih Jadi Ketum Himapsi Periode 2021-2024 Hasil Mubeslub

🔖 DAERAH 👤Radar Medan 🕔19:49:45, 05 Apr 2021

RADARMEDAN, Simalungun - Himpunan Mahasiswa dan Pemuda Simalungun (HIMAPSI) melaksanakan Musyawarah Besar Luar Biasa (MUBESLUB) di Patra Comfort, Parapat, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun pada Hari Minggu, (04/04/2021). Musyawarah Besar Luar Biasa (MUBESLUB) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Himpunan Mahasiswa Dan Pemuda . . .

Berita Selengkapnya
Untitled2.jpg

Ini Poin-poin Larangan Mudik Lebaran 2021, 6-17 Mei 2021

🔖 NASIONAL 👤Radar Medan 🕔14:56:49, 05 Apr 2021

RADARMEDAN.COM, JAKARTA - Pemerintah melarang aktivitas mudik lebran tahun 2021. Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy mengatakan larangan mudik ini merupakan upaya pemerintah menekan penyebaran virus corona (Covid-19). Menurut Muhadjir, aktivitas mudik lebaran memang dapat menggerakkan roda . . .

Berita Selengkapnya
FB_IMG_16168939164802.jpg

Temui Gubsu, Menparekraf Sampaikan 3 Hal Terkait Pengembangan Wisata Danau Toba

🔖 WISATA 👤Radar Medan 🕔08:31:31, 28 Mar 2021

RADARMEDAN.COM – Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi menerima kunjungan silahturahmi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Republik Indonesia Sandiaga Salahuddin Uno, di Rumah Dinas Gubernur Sumut Jalan Jenderal Sudirman Nomor 41 Medan, Sabtu (27/3).  Pada kunjungannya itu, Menparekraf menyampaikan tentang . . .

Berita Selengkapnya

Berita Utama

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami.

Jejak Pendapat

Anda Suka Smartphone Samsung atau OPPO?
  Samsung
  Oppo

Video Terbaru

Lihat Semua Video