96 Persen Terumbu Karang di Dunia Terancam Rusak Akibat Perubahan Iklim Hampir seluruh terumbu karang di perairan dangkal dunia terancam mengalami kerusakan parah
Oleh : Syaiful W Harahap | 25 Okt 2026, 07:51:02 WIB | 👁 73 Lihat Internasional
Keterangan Gambar : Great Barrier Reef di Australia termasuk salah satu kawasan terumbu karang yang terancam kerusakan. (Foto: dw.com/id - Norbert Probst/imageBROKER/picture alliance)
RADARMEDAN.COM – Hampir seluruh terumbu karang perairan dangkal dunia terancam rusak parah pada 2075 akibat perubahan iklim. Studi terbaru menemukan 96% ekosistem terumbu karang berada dalam kondisi terancam kritis. Andreas Illmer melaporkannya untuk Deutsche Welle (DW, 23 Oktober 2026).
Hampir seluruh terumbu karang di perairan dangkal dunia terancam mengalami kerusakan parah hingga kehilangan fungsi ekologisnya pada 2075. Perubahan iklim menjadi ancaman terbesarnya, demikian peringatan Uni Internasional untuk Konservasi Alam (Union for Conservation of Nature/IUCN) pada Kamis.
Dalam survei sistematis pertama terhadap 127 ekosistem terumbu karang di wilayah tropis dan subtropis di seluruh dunia, IUCN menyebut 96% di antaranya masuk kategori terancam kritis, tingkat ancaman tertinggi dalam penilaian lembaga tersebut.
Terumbu karang perairan dangkal merupakan ekosistem karang berwarna-warni yang ditemukan hingga kedalaman sekitar 40 meter. Kawasan ini menjadi habitat bagi berbagai jenis biota laut.
Sejumlah kawasan yang terancam antara lain Great Barrier Reef di Australia, kawasan Segitiga Terumbu Karang yang membentang di Pasifik barat dan Asia Tenggara, termasuk perairan Indonesia, Sistem Terumbu Karang Mesoamerika, serta terumbu karang di Laut Merah.
"Peningkatan suhu laut akibat perubahan iklim menjadi ancaman utama yang paling luas dan terus-menerus menyebabkan kerusakan terumbu karang di seluruh dunia," kata IUCN saat menyampaikan hasil penelitiannya dalam Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB (COP17) di Yerevan, Armenia.
Terumbu karang menjadi habitat bagi berbagai jenis biota laut. (Foto: dw.com/id - Yuddy Cahya Budiman/REUTERS)
Apa saja yang mengancam terumbu karang?
Secara global, terumbu karang perairan dangkal tersebar di wilayah seluas sekitar 188.000 kilometer persegi.
Karang sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Saat suhu air laut meningkat terlalu tinggi, karang akan melepaskan alga mikroskopis yang hidup di dalam jaringannya. Padahal, alga tersebut menyediakan sebagian besar nutrisi yang dibutuhkan karang untuk bertahan hidup.
Hilangnya alga ini menyebabkan karang mengalami pemutihan atau coral bleaching. Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, karang bisa mati.
Penangkapan ikan berlebihan juga menjadi ancaman besar. Terutama jika terjadi pada ikan kakatua dan kerapu, yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem terumbu karang.
Selain itu, pembangunan kawasan pesisir, pencemaran, aktivitas pariwisata, serta badai yang semakin kuat turut memperparah kerusakan terumbu karang.
Ketika karang keras mati dan menghilang, kawasan yang sebelumnya dipenuhi karang sering kali berubah menjadi hamparan alga, pecahan karang, dan spons laut. Akibatnya, keanekaragaman hayati berkurang karena semakin sedikit spesies yang bisa hidup di kawasan tersebut. Hewan yang terdampak antara lain ikan karang, kerang, penyu, dan hiu.
Penyu merupakan salah satu hewan laut yang bergantung pada ekosistem terumbu karang. (Foto: dw.com/id - Great Barrier Reef Foundation/dpa/picture alliance)
Masih bisakah terumbu karang diselamatkan?
"Perubahan iklim akan menjadi ancaman yang semakin besar dan serius di masa depan. Ini menempatkan kelangsungan hidup ekosistem terumbu karang pada risiko yang sangat tinggi," kata Mishal Gudka, pemimpin tim ilmiah yang melakukan penilaian terhadap kondisi terumbu karang untuk Daftar Merah Ekosistem IUCN.
Penelitian ini mengacu pada salah satu skenario iklim dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC) PBB, yang memperkirakan suhu rata-rata global akan naik sekitar 2,7 derajat Celsius pada 2100 dibandingkan masa sebelum Revolusi Industri.
Meski hasil penelitian menunjukkan ancaman yang serius, IUCN menyatakan sebagian besar terumbu karang saat ini masih bertahan. Jika proyeksi perubahan iklim di masa depan tidak diperhitungkan dan penilaian hanya didasarkan pada perubahan selama 50 tahun terakhir, hanya 24% ekosistem terumbu karang yang tergolong terancam kritis.
"Artinya, kita masih punya waktu yang sangat berharga untuk bertindak, dengan memperkuat upaya konservasi dan penanganan perubahan iklim agar dampak terburuk bisa dicegah," jelas Gudka.
"Apa yang kita lakukan dalam beberapa tahun ke depan akan menentukan nasib terumbu karang pada akhir abad ini. Apakah ekosistem ini bisa bertahan seperti yang kita kenal sekarang, atau justru berubah menjadi ekosistem lain yang manfaatnya bagi alam dan manusia jauh lebih kecil," tambahnya.
Direktur Jenderal IUCN Grethel Aguilar mengatakan bahwa "belum terlambat untuk memberi kesempatan bagi terumbu karang untuk pulih."
"Kita tahu apa yang harus dilakukan: memangkas emisi secara besar-besaran, memperkuat perlindungan dan pemulihan terumbu karang, serta terus berinvestasi untuk menjaga ketahanan ekosistem pesisir dan masyarakat yang menggantungkan hidup padanya," ujarnya. (Sumber: dpa, AFP)/(Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris/Diadaptasi oleh Rivi Satrianegara/Editor: Tezar Aditya Rahman)/dw.com/id. [*]
RADARMEDAN.COM, DELISERDANG – Polemik antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Deli Serdang dengan akun media sosial "Badan Perwakilan Netizen 2" makin menghangat.
Di tengah krisis gagalnya pengesahan P-APBD 2026, langkah Pemkab yang melaporkan akun anonim tersebut ke Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sempat memicu reaksi . . .
RADARMEDAN.COM, KARO – Kepolisian Resor (Polres) Tanah Karo bergerak cepat mengungkap kasus dugaan pencurian dengan kekerasan yang menewaskan seorang dosen Institut Teknologi Bisnis (ITB) Kabanjahe, Asprina br Surbakti (38). Petugas berhasil mengamankan dua orang tersangka yang diduga terlibat langsung dalam peristiwa berdarah . . .
RADARMEDAN.COM — Aktivitas seorang perempuan yang menggunakan sejumlah nama akun dan mencantumkan berbagai gelar akademik serta profesi kedokteran di media sosial TikTok menjadi perhatian publik.
Perempuan yang disebut bernama Nurlian Galingging itu diketahui tampil dengan sejumlah gelar, di antaranya profesor, dokter spesialis . . .
RADARMEDAN.COM – Konflik seputar pengosongan fasilitas Chapel Oikumene Universitas Sumatera Utara (USU) memanas dan berujung ke ranah hukum pidana. Menyusul eksekusi pengosongan oleh pihak kampus pada Senin (10/8/2026), Pdt. Gloria Iriany Balle, S.Th., M.Div., resmi melaporkan Rektor USU beserta sejumlah pihak ke Sentra Pelayanan Kepolisian . . .
RADARMEDAN.com – Juara lima kali Piala Dunia FIFA, Brasil, ditahan Maroko bermain imbang 1-1 sampai turun minum di Grup C Piala Dunia FIFA 2026 yang berlangsung pagi ini, 14/6/2026, pagi WIB di New Jersey Stadium, New York City, New York, Amerika Serikat (AS).
Timnas Negeri Samba justru duluan tertinggal 0-1 sampai turun minum ketika di . . .
RADARMEDAN.COM – Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) dan Pemberantasan Perdagangan Orang (PPO) Polda Sumatera Utara mengungkap kasus dugaan tindak pidana penyiaran dan penyediaan konten bermuatan pornografi melalui siaran langsung (live streaming) di platform TikTok.
Direktur Reserse PPA dan PPO Polda Sumut, Kombes . . .
RADARMEDAN.COM – Gelombang perlawanan jemaat terhadap rencana pengosongan paksa Gedung Gereja Oikoumene (POUK) Universitas Sumatera Utara (USU) makin memanas paska terbitnya surat pengosongan yang kedua. Buntunya komunikasi dengan pihak kampus membuat Tim Hukum Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI) Sumatera Utara menolak keras surat . . .
RADARMEDAN.COM - Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, secara resmi melantik sejumlah pejabat eselon II, III dan IV di lingkungan Pemko Medan, Kamis (16/4/2026). Dalam pelantikan yang berlangsung di Balai Kota ini, Rico Waas memberikan peringatan keras berupa tenggat waktu (deadline) selama enam bulan bagi para pejabat yang baru dilantik . . .
RADARMEDAN.COM - Belakangan ini, tensi di Kota Medan lagi naik gara-gara polemik Surat Edaran (SE) Wali Kota soal penataan daging non-halal. Dari aksi ribuan massa di Balai Kota sampai munculnya gerakan tandingan, suasananya jadi makin "panas". Tapi tunggu dulu, warga Medan jangan mau cuma jadi penonton yang gampang disulut. Kita harus . . .
RADARMEDAN.COM - Gelombang protes ribuan masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Solidaritas Pedagang dan Konsumen Daging Babi Kota Medan memadati depan Kantor Wali Kota dan gedung DPRD Medan, Kamis (26/2/2026).
Massa menuntut pencabutan Surat Edaran (SE) Wali Kota Medan yang dinilai diskriminatif dan mengancam keberlangsungan usaha pedagang . . .