Klaim Profesor hingga Dokter Spesialis di TikTok Disorot, Rekam Jejak Akademik Dipertanyakan

Oleh : Raja Simarmata | 26 Agu 2026, 17:40:04 WIB | 👁 26 Lihat
Nasional
Klaim Profesor hingga Dokter Spesialis di TikTok Disorot, Rekam Jejak Akademik Dipertanyakan

Keterangan Gambar : Screenshot Foto diambil saat melakukan siaran langsung di Platform Tiktok


RADARMEDAN.com — Aktivitas seorang perempuan yang menggunakan sejumlah nama akun dan mencantumkan berbagai gelar akademik serta profesi kedokteran di media sosial TikTok menjadi perhatian publik. Perempuan yang disebut bernama Nurlian Galingging itu diketahui tampil dengan sejumlah gelar, di antaranya profesor, dokter spesialis penyakit dalam (Sp.PD), M.Sc., dan Ph.D., serta mengaitkan pendidikan akademiknya dengan Harvard University.

Perhatian terhadap aktivitas tersebut muncul karena siaran langsung yang dilakukan di TikTok tidak hanya berisi konten edukasi kesehatan. Dalam sejumlah aktivitasnya, perempuan tersebut juga disebut menawarkan produk kesehatan, termasuk produk yang diklaim berkaitan dengan kesehatan tulang dan kolagen.

Produk tersebut bahkan disebut sebagai hasil racikan sendiri berdasarkan penelitian yang diklaim telah dilakukannya.

Di tengah maraknya promosi produk kesehatan melalui media sosial, aktivitas semacam ini memunculkan pertanyaan publik mengenai identitas, kompetensi, rekam jejak akademik, legalitas produk, serta dasar ilmiah dari berbagai klaim yang disampaikan.

Muncul dengan Beragam Nama Akun
Dalam aktivitasnya di media sosial, perempuan yang disebut Nurlian Galingging itu dikaitkan dengan sejumlah nama akun dan identitas, antara lain dr. Anastasia, Sp.PD., M.Sc., Ph.D., Doktor Halim, Ph.D., Prof. dr. Anastasya Saragih, Ph.D., Prof. dr. Ana Saragih, Ph.D., Miss ANA, Prof. dr. Miss, Ph.D., Prof. dr. M. Anastasya Saragih, Ph.D., Putri Simanis Saragih, Prof. dr. Maria JH, Ph.D., Nur Cahaya, serta Prof. dr. Anastasya Halim, Ph.D.

Selain mencantumkan gelar akademik dan profesi kedokteran, ia juga disebut pernah menyampaikan sejumlah klaim mengenai kiprahnya di bidang kesehatan dan penelitian.

Di antaranya, klaim sebagai dokter yang bekerja di WHO, memiliki rumah sakit di Indonesia dan luar negeri, mempunyai pesawat jet pribadi, serta pernah memberikan sumbangan dalam jumlah besar untuk pembangunan sekolah di Papua, Maluku dan Sulawesi. Bahkan akhir-akhir ini dia ditugaskan oleh WHO ke NTT untuk membantu para korban gempa bumi.

Berbagai klaim tersebut kini menjadi perhatian karena membutuhkan verifikasi melalui sumber resmi. Status pendidikan, profesi kedokteran, jabatan, kepemilikan institusi kesehatan, hingga rekam jejak penelitian semestinya dapat dibuktikan dengan dokumen dan sumber yang dapat diperiksa secara independen.

Sorotan lainnya berkaitan dengan aktivitas penawaran produk kesehatan melalui siaran langsung TikTok.

Berdasarkan informasi yang beredar, aktivitas tersebut disebut berlangsung di sekitar Bekasi dan Kuningan. Dalam siaran langsung, produk kesehatan ditawarkan kepada penonton dengan melibatkan sejumlah orang lain yang berperan sebagai moderator maupun pemberi testimoni palus.

Untuk produk berupa obat, suplemen, atau alat kesehatan, masyarakat perlu memastikan legalitas produk, izin edar, komposisi, keamanan, serta kebenaran klaim manfaatnya.

Sejumlah konsumen juga disebut mengeluhkan kesulitan melakukan komunikasi kembali setelah melakukan transaksi atau konsultasi melalui akun media sosial yang digunakan.

Ada pula klaim dari sejumlah pengguna bahwa akun mereka diblokir setelah menyampaikan pertanyaan atau keluhan. Beberapa pertanyaan yang dianggap kritis disebut dihapus dari kolom komentar dan diblokir.

Pergantian Nama Akun Jadi Perhatian
Penggunaan berbagai nama akun juga menjadi perhatian tersendiri. Pergantian identitas akun membuat sebagian pengguna media sosial mempertanyakan siapa sebenarnya orang di balik berbagai akun tersebut dan bagaimana kesinambungan rekam jejak digitalnya.

Sejumlah orang yang mengaku pernah mengenal Nurlian Galingging menyatakan bahwa perempuan yang tampil dalam sejumlah siaran TikTok tersebut merupakan orang yang sama.

Keyakinan itu, menurut mereka, didasarkan pada suara, cara berbicara, mimik wajah, dan karakteristik fisik.

Bahkan, beberapa orang yang mengaku mengenalnya pernah mengingatkan agar aktivitas yang berpotensi merugikan orang lain dihentikan.

Janner Simarmata Pertanyakan Rekam Jejak Akademik
Akademisi Doktor Janner Simarmata turut mempertanyakan klaim kepakaran dan rekam jejak akademik perempuan tersebut.

Menurut Janner, seseorang yang mengaku sebagai akademisi atau peneliti semestinya memiliki rekam jejak yang dapat ditelusuri.

"Untuk membuktikan kredibilitas seorang peneliti, baik dari dalam maupun luar negeri, sebenarnya relatif mudah dilakukan melalui rekam jejak akademik dan publikasi ilmiah."

Janner mengatakan, klaim mengenai penelitian, penemuan obat, paten, maupun kerja sama internasional seharusnya dapat ditelusuri melalui sumber akademik yang kredibel.

Ia juga menyoroti klaim bahwa perempuan tersebut pernah melakukan penelitian dan menghasilkan obat yang telah dipatenkan serta dikontrak oleh sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat.

Menurut Janner, klaim sebesar itu semestinya disertai bukti yang dapat diverifikasi, seperti informasi paten, publikasi ilmiah, dokumen penelitian, atau rekam jejak kerja sama institusional.

ORCID dan Scopus Bisa Digunakan untuk Verifikasi
Menurut Janner, alasan privasi tidak semestinya menjadi penghalang untuk menunjukkan rekam jejak akademik.

Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan menelusuri ORCID iD atau Scopus Author ID, jika seseorang memang memiliki rekam jejak publikasi ilmiah.

"Kalau persoalannya privasi, dapat ditunjukkan ORCID iD atau Scopus ID. Yang perlu dilihat adalah rekam jejak karya ilmiahnya, bukan data pribadi," kata Janner.

Menurut dia, melalui basis data akademik tersebut masyarakat dapat menelusuri karya ilmiah, publikasi, dan afiliasi yang dikaitkan dengan seorang peneliti.

Dengan demikian, klaim sebagai profesor, doktor, peneliti, atau pemilik rekam jejak ilmiah dapat diperiksa secara lebih objektif.

Janner menambahkan, perkembangan dunia akademik saat ini semakin mengarah pada keterbukaan ilmu pengetahuan atau Open Science. Hasil penelitian idealnya tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi dapat ditelusuri dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

Dalam konteks tersebut, research impact atau dampak penelitian menjadi salah satu aspek penting dalam melihat kontribusi seorang peneliti.

Janner: Jangan Mudah Percaya Gelar Panjang
Janner Simarmata mengingatkan masyarakat agar tidak mudah memberikan kepercayaan hanya karena seseorang menggunakan gelar akademik atau profesi yang panjang di media sosial.

Menurutnya, masyarakat dapat melakukan verifikasi sederhana dengan menelusuri institusi pendidikan, publikasi ilmiah, afiliasi akademik, paten, organisasi profesi, hingga rekam jejak penelitian yang diklaim.

"Jangan cepat percaya. Tingkatkan literasi membaca dan kemampuan melakukan verifikasi agar masyarakat terlindungi dari informasi palsu, manipulasi data maupun penipuan yang menggunakan kedok informasi ilmiah," ujarnya.

Menurut Janner, penggunaan gelar yang panjang, ditambah dengan penyebutan nama institusi internasional, dapat membuat masyarakat awam lebih mudah percaya.

Karena itu, masyarakat perlu membedakan antara klaim dan fakta yang telah diverifikasi.

Masyarakat Diminta Aktif Melakukan Verifikasi
Polemik tersebut pada akhirnya menjadi pengingat pentingnya literasi digital dan literasi kesehatan di tengah pesatnya perkembangan media sosial.

Klaim mengenai gelar profesor, dokter, spesialis, gelar akademik dari perguruan tinggi luar negeri, jabatan di organisasi internasional, kepemilikan paten, hasil penelitian, maupun kepemilikan fasilitas kesehatan seharusnya dapat diperiksa melalui sumber resmi.

Demikian pula dengan produk kesehatan yang ditawarkan melalui media sosial. Konsumen perlu memeriksa legalitas produk, izin edar, produsen, komposisi, serta klaim manfaat sebelum memutuskan membeli atau mengonsumsinya.

Apabila masyarakat merasa dirugikan, bukti transaksi, percakapan, materi promosi, bukti pembayaran, dan informasi produk sebaiknya disimpan dan dilaporkan kepada lembaga yang berwenang.

"Melawan penipuan di media sosial tidak cukup hanya dengan imbauan pasif. Masyarakat perlu bergerak bersama sebagai komunitas, melakukan verifikasi, melaporkan konten yang bermasalah, dan tidak menyebarkan informasi yang belum terbukti," kata Janner.

Menurut dia, semakin tinggi kemampuan masyarakat melakukan verifikasi, semakin kecil pula ruang bagi penyebaran hoaks, manipulasi informasi, dan praktik penipuan yang memanfaatkan nama besar, gelar akademik, maupun istilah ilmiah.

Cerita Masa Sekolah Ikut Muncul
Di tengah polemik tersebut, sejumlah orang yang mengaku pernah menjadi teman sekolah Nurlian Galingging di SMK/SMEA Karya Pendidik Balige juga menyampaikan kesaksian mengenai masa sekolahnya.

Mereka mengungkapkan sejumlah cerita mengenai perilaku Nurlian ketika masih bersekolah, termasuk tuduhan pernah berbohong dan suka meminjam uang kepada beberapa teman.

Beberapa orang yang mengaku sebagai teman seangkatan bahkan menyatakan bahwa Nurlian tidak menyelesaikan pendidikan di sekolah tersebut. (JS)


TAGS :


Komentar Facebook

Tuliskan Komentar dengan account Facebook

Kembali Ke halaman Utama

Berita Lainnya:

dilaporkan1.jpg

Buntut Eksekusi Paksa Chapel, Pdt. Gloria Resmi Polisikan Rektor USU ke Polda Sumut, Ini Jawaban USU

🔖 UMUM 👤Radar Medan 🕔08:32:11, 12 Agu 2026

RADARMEDAN.COM – Konflik seputar pengosongan fasilitas Chapel Oikumene Universitas Sumatera Utara (USU) memanas dan berujung ke ranah hukum pidana. Menyusul eksekusi pengosongan oleh pihak kampus pada Senin (10/8/2026), Pdt. Gloria Iriany Balle, S.Th., M.Div., resmi melaporkan Rektor USU beserta sejumlah pihak ke Sentra Pelayanan Kepolisian . . .

Berita Selengkapnya
pemain_Brasil_dan_Maroko.jpg

Brasil Dipaksa Maroko Bermain Imbang Sampai Turun Minum di Grup C Piala Dunia FIFA 2026

🔖 OLAHRAGA 👤Syaiful W Harahap 🕔06:09:28, 14 Jun 2026

RADARMEDAN.com – Juara lima kali Piala Dunia FIFA, Brasil, ditahan Maroko bermain imbang 1-1 sampai turun minum di Grup C Piala Dunia FIFA 2026 yang berlangsung pagi ini, 14/6/2026, pagi WIB di New Jersey Stadium, New York City, New York, Amerika Serikat (AS). Timnas Negeri Samba justru duluan tertinggal 0-1 sampai turun minum ketika di . . .

Berita Selengkapnya
5JT.jpg

Polda Sumut Bongkar Live TikTok Bermuatan Pornografi, Host Raup Rp5 Juta per Hari

🔖 HUKUM DAN KRIMINAL 👤Radar Medan 🕔21:06:51, 11 Jun 2026

RADARMEDAN.COM – Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) dan Pemberantasan Perdagangan Orang (PPO) Polda Sumatera Utara mengungkap kasus dugaan tindak pidana penyiaran dan penyediaan konten bermuatan pornografi melalui siaran langsung (live streaming) di platform TikTok. Direktur Reserse PPA dan PPO Polda Sumut, Kombes . . .

Berita Selengkapnya
Tim_Hukum_MUKI.jpg

USU Dinilai Kebablasan, Tim Hukum MUKI Sumut Desak Menag Turun Tangan Urus Polemik Gereja POUK

🔖 UMUM 👤Radar Medan 🕔17:05:29, 26 Mei 2026

RADARMEDAN.COM – Gelombang perlawanan jemaat terhadap rencana pengosongan paksa Gedung Gereja Oikoumene (POUK) Universitas Sumatera Utara (USU) makin memanas paska terbitnya surat pengosongan yang kedua. Buntunya komunikasi dengan pihak kampus membuat Tim Hukum Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI) Sumatera Utara menolak keras surat . . .

Berita Selengkapnya
eselon.jpg

Lantik Eselon II, III dan IV, Rico Waas Beri Deadline 6 Bulan bagi Pejabat Baru Untuk Tunjukkan Peru

🔖 BERITA KOTA 👤Radar Medan 🕔18:53:21, 16 Apr 2026

RADARMEDAN.COM - Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, secara resmi melantik sejumlah pejabat eselon II, III dan IV di lingkungan Pemko Medan, Kamis (16/4/2026). Dalam pelantikan yang berlangsung di Balai Kota ini, Rico Waas memberikan peringatan keras berupa tenggat waktu (deadline) selama enam bulan bagi para pejabat yang baru dilantik . . .

Berita Selengkapnya
provokasi.jpg

Waspada Penunggang Gelap di Balik Isu Babi: Jangan Kasih Celah Mafia Narkoba Obok-obok Medan!

🔖 OPINI 👤Radar Medan 🕔11:55:43, 01 Mar 2026

RADARMEDAN.COM - Belakangan ini, tensi di Kota Medan lagi naik gara-gara polemik Surat Edaran (SE) Wali Kota soal penataan daging non-halal. Dari aksi ribuan massa di Balai Kota sampai munculnya gerakan tandingan, suasananya jadi makin "panas". Tapi tunggu dulu, warga Medan jangan mau cuma jadi penonton yang gampang disulut. Kita harus . . .

Berita Selengkapnya
demo11.jpg

Ribuan Massa Kepung Balai Kota Medan, Wali Kota Rico Waas Akhirnya Tarik SE Dagang Babi

🔖 BERITA KOTA 👤Radar Medan 🕔20:01:13, 26 Feb 2026

RADARMEDAN.COM - Gelombang protes ribuan masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Solidaritas Pedagang dan Konsumen Daging Babi Kota Medan memadati depan Kantor Wali Kota dan gedung DPRD Medan, Kamis (26/2/2026). Massa menuntut pencabutan Surat Edaran (SE) Wali Kota Medan yang dinilai diskriminatif dan mengancam keberlangsungan usaha pedagang . . .

Berita Selengkapnya
setneg.jpg

Langgar Aturan, Ini Daftar 28 Perusahaan yang Dicabut Izin Usai Ratas Dipimpin Presiden

🔖 NASIONAL 👤Radar Medan 🕔21:39:16, 20 Jan 2026

RADARMEDAN.COM, JAKARTA - Pemerintah menegaskan komitmennya dalam menata dan menertibkan kegiatan ekonomi berbasis sumber daya alam. Komitmen tersebut ditunjukkan dengan pencabutan izin terhadap puluhan perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran di kawasan hutan. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa Presiden Prabowo . . .

Berita Selengkapnya
bws3.jpg

Bantuan untuk Pengendalian Banjir, Rico Waas: Dana Bank Dunia Rp 1,5 Triliun Dikelola Oleh BWS

🔖 BERITA KOTA 👤Radar Medan 🕔18:09:37, 03 Des 2025

RADARMEDAN.COM - Walikota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas angkat bicara terkait dana bantuan dari Bank Dunia sebesar Rp 1,5 triliun untuk program pengendalian banjir di Kota Medan. Ia membantah bahwa Pemerintah Kota (Pemko) Medan mengelola dana batuan tersebut.  Rico menjelaskan bahwa realisasi dana bantuan tersebut, mengelola adalah Balai . . .

Berita Selengkapnya
rilis3.jpg

Polda Sumut Rilis Update Lengkap Situasi Bencana 24–29 November 2025: 488 Bencana, 1.076 Korban

🔖 UMUM 👤Radar Medan 🕔14:25:22, 29 Nov 2025

RADARMEDAN.COM - Polda Sumatera Utara merilis perkembangan terbaru penanganan bencana alam di wilayah Sumut sejak 24 hingga 29 November 2025. Hingga pukul 09.00 WIB, tercatat 488 kejadian bencana alam meliputi tanah longsor, banjir, pohon tumbang, dan angin puting beliung yang tersebar di 21 wilayah hukum Polres jajaran. Update Ddata terbaru, . . .

Berita Selengkapnya

Berita Utama

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami.

Jejak Pendapat

Bagaimana pandangan anda atas Pilkada 2024?
  Tidak Ada Pilihan
  Tidak Puas
  Puas