Ratusan Sekolah di Prancis Ditutup Imbas Protes Siswa Protes yang digerakkan oleh para pelajar ini bermula di sebuah sekolah di Ibu Kota Paris pada 17/9/2
Oleh : Syaiful W Harahap | 07 Okt 2026, 13:12:17 WIB | 👁 306 Lihat Internasional
Keterangan Gambar : Protes di kalangan pelajar di Prancis telah menyebar ke seluruh negeri, salah satunya di Lyon. (Foto: dw.com/id - Laurent Cipriani/AP Photo/picture alliance)
RADARMEDAN.COM, Paris - Gelombang protes siswa yang mengguncang Prancis pekan lalu mendorong pemerintah menutup kegiatan belajar mengajar di sekitar 500 sekolah. Aksi demonstrasi lanjutan disebut masih akan berlangsung. Timothy Jones melaporkannya untuk Deutsceh Welle (DW, 5 Oktober 2026).
Ratusan sekolah menengah di Prancis akan ditutup, baik sepenuhnya maupun sebagian, pada Senin (5/10/2026) menyusul kekhawatiran keamanan setelah gelombang protes siswa yang melanda berbagai wilayah negara itu. Aksi demonstrasi lanjutan juga dijadwalkan berlangsung pada Selasa (6/10/2026).
Protes yang digerakkan oleh para pelajar ini bermula di sebuah sekolah di Ibu Kota Paris pada 17/9/2026. Awalnya, siswa menyuarakan keluhan terkait buruknya kondisi sekolah. Namun, dalam beberapa pekan terakhir, aksi tersebut berkembang menjadi demonstrasi berskala nasional yang di sejumlah tempat berujung bentrokan dan kekerasan.
Beberapa sekolah di Prancis rusak di tengah aksi protes pelajar. (Foto: dw.com/id - CLPRESS/ABACA/picture alliance)
Mengapa sekolah ditutup?
Menteri Pendidikan Prancis Edouard Geffray mengatakan pada Minggu (4/10/2026), bahwa kegiatan belajar mengajar akan dihentikan di sekitar 400 hingga 500 sekolah menengah karena kondisi keamanan yang dinilai belum memadai.
Menurut Geffray, penutupan sekolah dilakukan terutama sebagai langkah pencegahan, mengingat aksi protes besar kembali direncanakan berlangsung pada Selasa (6/10/2026).Ia menyebut jumlah sekolah yang ditutup pada Senin diperkirakan serupa dengan pekan lalu. Namun, pemerintah menargetkan adanya pemulihan kegiatan belajar secara bertahap.
Sejak protes dimulai, sebanyak 24 sekolah dilaporkan dibakar atau dirusak, sementara 78 staf pendidikan mengalami luka-luka.
Geffray menuding adanya kelompok aktivis, khususnya dari spektrum politik kiri radikal, yang telah menyusup ke dalam gerakan siswa dan memicu aksi kekerasan."Situasi ini jelas menimbulkan risiko bagi staf maupun para siswa kami," tambahnya.
Sementara itu, Presiden wilayah Ile-de-France, Valerie Pecresse, mengatakan lebih dari sepertiga dari 468 sekolah di kawasan yang mengelilingi Paris akan ditutup pada Senin (5/10/2026).
Aksi demonstrasi lanjutan di Prancis dikabarkan masih akan berlangsung.(Foto: dw.com/id - Laurent Cipriani/AP Photo/picture alliance)
Apa tuntutan para siswa?
Para siswa sekolah menengah Prancis atau lycée mengeluhkan tingginya tingkat ketidakhadiran guru, jam belajar yang dianggap terlalu panjang, serta kondisi fasilitas sekolah yang sudah tua dan kurang terawat.
Mereka juga memprotes minimnya sistem pendingin ruangan saat musim panas. Tahun lalu, sejumlah kota di Prancis mengalami suhu hingga 40 derajat Celsius, sementara penggunaan AC masih belum umum di banyak sekolah.
Penyelenggara aksi menyerukan agar demonstrasi tetap berlanjut pada Selasa (6/10). Mereka menilai pemerintah belum menawarkan langkah konkret untuk mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi dunia pendidikan.
Pada Minggu (4/10/2026), Perdana Menteri Sebastien Lecornu meminta pemerintah daerah memprioritaskan pengisian posisi guru yang kosong serta menanggulangi dampak absennya tenaga pengajar dalam jangka panjang.
Ia juga menjadwalkan pertemuan dengan para pemimpin wilayah pada Selasa (6/10/2026) untuk membahas renovasi gedung-gedung sekolah yang kondisinya dinilai memprihatinkan.
Diwarnai insiden kekerasan
Gelombang protes ini diwarnai sejumlah insiden kekerasan. Aparat keamanan beberapa kali menggunakan gas air mata dan tongkat untuk membubarkan massa pelajar.
Lebih dari 5.000 orang telah ditangkap sejak gerakan protes dimulai, dan sekitar 85% di antaranya merupakan anak di bawah umur.
Pada Minggu (4/10/2026), seorang remaja berusia 16 tahun ditahan setelah diduga menyerang seorang guru berusia 59 tahun dan menyiram sang guru dengan bensin di sela-sela aksi protes di kota La Ciotat, Prancis selatan.
Pekan lalu, sebuah video memperlihatkan kejadian lain dimana sekelompok pemuda diduga memukul dan menendang seorang polisi yang sedang terjatuh di kota Belfort, Prancis timur.
Organisasi HAM Amnesti Internasional cabang Prancis menilai tindakan aparat dalam menangani demonstrasi tersebut "tidak proporsional."
Namun, Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez membela aparat keamanan. Menurutnya, polisi tidak sedang "menindak” para pelajar, melainkan "melindungi” siswa dan mahasiswa yang ingin menyampaikan tuntutan mereka "secara damai.” (Sumber: AFP, dpa)/Artikel ini pertama kali ditulis dalam Bahasa Inggris/Diadaptasi oleh Iryanda Mardanuz/dw.com/id. [*]
RADARMEDAN.COM, DELISERDANG – Polemik antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Deli Serdang dengan akun media sosial "Badan Perwakilan Netizen 2" makin menghangat.
Di tengah krisis gagalnya pengesahan P-APBD 2026, langkah Pemkab yang melaporkan akun anonim tersebut ke Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sempat memicu reaksi . . .
RADARMEDAN.COM, KARO – Kepolisian Resor (Polres) Tanah Karo bergerak cepat mengungkap kasus dugaan pencurian dengan kekerasan yang menewaskan seorang dosen Institut Teknologi Bisnis (ITB) Kabanjahe, Asprina br Surbakti (38). Petugas berhasil mengamankan dua orang tersangka yang diduga terlibat langsung dalam peristiwa berdarah . . .
RADARMEDAN.COM — Aktivitas seorang perempuan yang menggunakan sejumlah nama akun dan mencantumkan berbagai gelar akademik serta profesi kedokteran di media sosial TikTok menjadi perhatian publik.
Perempuan yang disebut bernama Nurlian Galingging itu diketahui tampil dengan sejumlah gelar, di antaranya profesor, dokter spesialis . . .
RADARMEDAN.COM – Konflik seputar pengosongan fasilitas Chapel Oikumene Universitas Sumatera Utara (USU) memanas dan berujung ke ranah hukum pidana. Menyusul eksekusi pengosongan oleh pihak kampus pada Senin (10/8/2026), Pdt. Gloria Iriany Balle, S.Th., M.Div., resmi melaporkan Rektor USU beserta sejumlah pihak ke Sentra Pelayanan Kepolisian . . .
RADARMEDAN.com – Juara lima kali Piala Dunia FIFA, Brasil, ditahan Maroko bermain imbang 1-1 sampai turun minum di Grup C Piala Dunia FIFA 2026 yang berlangsung pagi ini, 14/6/2026, pagi WIB di New Jersey Stadium, New York City, New York, Amerika Serikat (AS).
Timnas Negeri Samba justru duluan tertinggal 0-1 sampai turun minum ketika di . . .
RADARMEDAN.COM – Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) dan Pemberantasan Perdagangan Orang (PPO) Polda Sumatera Utara mengungkap kasus dugaan tindak pidana penyiaran dan penyediaan konten bermuatan pornografi melalui siaran langsung (live streaming) di platform TikTok.
Direktur Reserse PPA dan PPO Polda Sumut, Kombes . . .
RADARMEDAN.COM – Gelombang perlawanan jemaat terhadap rencana pengosongan paksa Gedung Gereja Oikoumene (POUK) Universitas Sumatera Utara (USU) makin memanas paska terbitnya surat pengosongan yang kedua. Buntunya komunikasi dengan pihak kampus membuat Tim Hukum Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI) Sumatera Utara menolak keras surat . . .
RADARMEDAN.COM - Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, secara resmi melantik sejumlah pejabat eselon II, III dan IV di lingkungan Pemko Medan, Kamis (16/4/2026). Dalam pelantikan yang berlangsung di Balai Kota ini, Rico Waas memberikan peringatan keras berupa tenggat waktu (deadline) selama enam bulan bagi para pejabat yang baru dilantik . . .
RADARMEDAN.COM - Belakangan ini, tensi di Kota Medan lagi naik gara-gara polemik Surat Edaran (SE) Wali Kota soal penataan daging non-halal. Dari aksi ribuan massa di Balai Kota sampai munculnya gerakan tandingan, suasananya jadi makin "panas". Tapi tunggu dulu, warga Medan jangan mau cuma jadi penonton yang gampang disulut. Kita harus . . .
RADARMEDAN.COM - Gelombang protes ribuan masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Solidaritas Pedagang dan Konsumen Daging Babi Kota Medan memadati depan Kantor Wali Kota dan gedung DPRD Medan, Kamis (26/2/2026).
Massa menuntut pencabutan Surat Edaran (SE) Wali Kota Medan yang dinilai diskriminatif dan mengancam keberlangsungan usaha pedagang . . .