Jerman dan Kosovo Bersatu Melawan Kutu Pembawa Virus yang Mematikan
Kutu ini dapat mendeteksi mangsanya dari jarak hingga 200 meter

Oleh : Syaiful W Harahap | 09 Sep 2026, 07:12:47 WIB | 👁 324 Lihat
Kesehatan
Jerman dan Kosovo Bersatu Melawan Kutu Pembawa Virus yang Mematikan

Keterangan Gambar : Kutu Hyalomma lebih menyukai kondisi hangat dan kering, dan berkat perubahan iklim, kutu ini makin banyak ditemukan di wilayah utara. (Foto: dw.com/id - Fabian Sommer/dpa/picture alliance)


RADARMEDAN.com- Jerman punya lab berkeamanan tinggi, sementara Kosovo memiliki kutu Hyalomma dan pengalaman menghadapi demam Krimea-Kongo yang mematikan. Para ilmuwan Jerman dan Kosovo berupaya melawan penyakit ini serta vektornya. Julia Vergin* melaporkannya untuk Deutsche Welle (DW, 8/9/2026).

Kutu ini dapat mendeteksi mangsanya dari jarak hingga 200 meter. Namun, berbeda dengan banyak jenis kutu lainnya yang menunggu di rerumputan hingga korbannya mendekat, kutu ini justru mengejar mangsanya. Baik hewan maupun manusia bisa menjadi targetnya.

Kutu Hyalomma, yang sering disebut sebagai "kutu pemburu besar", sebelumnya banyak ditemukan di Afrika, Asia, dan Eropa Selatan. Namun, akibat perubahan iklim, kutu ini kini mampu bertahan hidup lebih jauh ke utara. Kutu tersebut telah ditemukan di Jerman dan berbagai negara Eropa Timur. Kosovo, yang terletak di Eropa Tenggara, sudah lama menjadi wilayah dengan populasi kutu Hyalomma dengan jumlah besar.

Kutu Hyalomma juga merupakan pembawa virus penyebab demam berdarah Krimea-Kongo (Crimean-Congo Hemorrhagic Fever/CCHF), yaitu penyakit yang sangat berbahaya dengan tingkat kematian yang tinggi. Gejala penyakit ini mirip dengan Ebola atau virus Marburg. Penyakit-penyakit tersebut dapat merusak pembuluh darah dan sistem limfatik, yang dapat menyebabkan pendarahan dalam serta kematian.

Kurtesh Sherifi pertama kali membaca tentang demam berdarah Krimea-Kongo di surat kabar pada tahun 2005, saat ia sedang menyelesaikan studi kedokteran hewannya di Berlin. Artikel tersebut melaporkan bahwa 11 orang di tanah kelahirannya, Kosovo, telah tertular penyakit itu dan lima di antaranya meninggal dunia.

Saat itu, Sherifi memang sudah tertarik pada penyakit yang dapat menular antara hewan dan manusia, yang dikenal sebagai zoonosis. Karena itu, demam berdarah Krimea-Kongo langsung menarik perhatiannya.

Setelah kembali ke Kosovo, Sherifi mulai bekerja di Fakultas Pertanian dan Kedokteran Hewan Universitas Pristina. Namun, dana penelitian sangat terbatas. Kosovo, negara kecil dengan sekitar 1,6 juta penduduk, tidak memiliki laboratorium berkeamanan tinggi maupun peralatan yang dibutuhkan untuk meneliti virus demam berdarah Krimea-Kongo.

Sementara kumbang tanduk panjang yang jauh lebih kecil (kiri) menunggu korban yang cocok lewat, kutu Hyalomma lebih memilih untuk berburu. (Foto: dw.com/id - Fabian Sommer/dpa/picture alliance)

Mencari kerja sama dengan Jerman

Sherifi kemudian menghubungi Bernhard Nocht Institute for Tropical Medicine di Hamburg, lembaga terbesar di Jerman yang meneliti bidang tersebut.

Salah satu penelitinya adalah Petra Emmerich, seorang ahli virologi dan pakar virus Kelompok Risiko 4. Virus dalam kelompok ini menyebabkan penyakit yang sangat berat, sering kali mematikan, dan umumnya belum memiliki pengobatan yang tersedia secara luas. Virus Krimea-Kongo termasuk dalam kelompok risiko tersebut.

Selain sebagai peneliti, Emmerich juga bertugas sebagai anggota cadangan militer Jerman. Militer memiliki ketertarikan khusus terhadap virus yang berpotensi digunakan sebagai senjata biologis. Pada tahun 2009, ia dikirim ke Kosovo, dan di sanalah ia bertemu dengan Sherifi.

Sejak saat itu, hubungan kerja sama yang aktif mulai terjalin. Di Kosovo dibangun sistem pemantauan penyebaran kutu Hyalomma dan virus yang dibawanya. Pada tahun 2013, proyek kolaborasi mereka mulai mendapat pendanaan dari Program Biosekuriti Jerman yang dikelola oleh Kementerian Luar Negeri Jerman. Program ini bertujuan membantu negara mitra menghadapi ancaman biologis.

"Ini adalah hubungan saling menguntungkan," kata Emmerich mengenai kemitraan ilmiah tersebut. "Kami memiliki keahlian diagnostik dan sumber daya yang diperlukan, tetapi kami tidak memiliki pasien."

Dokter-dokter dari Jerman secara rutin datang ke Kosovo bersama Emmerich untuk bertukar informasi dan pengalaman dengan para dokter setempat.

Meningkatkan kesadaran masyarakat juga menjadi salah satu pilar penting dalam kerja sama Jerman-Kosovo ini.

Para petani di Kosovo termasuk kelompok yang paling rentan terinfeksi. Risikonya bukan hanya karena digigit kutu, tetapi juga karena mereka sering melepaskan kutu dari tubuh hewan dengan tangan kosong. Jika darah hewan yang terinfeksi masuk ke luka kecil di tangan manusia, virus dapat menular.

"Ini kemungkinan besar merupakan cara utama sebagian besar penderita di Kosovo terinfeksi," jelas Sherifi.

Petani di Kosovo mempunyai risiko khusus terkena kutu Hyalomma. (Foto: dw.com/id - Idro Seferi)

Pasien butuh perawatan intensif dan isolasi

Sherifi dan Emmerich sering mengunjungi sekolah-sekolah untuk mengedukasi siswa mengenai bahaya virus tersebut dan cara melindungi diri. Misalnya, menggunakan obat anti-kutu, mengenakan celana panjang, dan sepatu.

Tidak semua kutu Hyalomma membawa virus ini, dan sebagian besar orang yang digigit kutu tersebut tidak akan jatuh sakit. Namun, masalah utamanya adalah belum tersedia vaksin maupun pengobatan khusus bagi pasien yang terkena demam berdarah Krimea-Kongo.

"Jika seseorang sampai jatuh sakit, kondisinya bisa sangat serius," kata Emmerich.

Penyakit ini biasanya diawali dengan gejala yang mirip flu, seperti demam, menggigil, nyeri tubuh, dan sakit kepala. Dalam kasus berat, pasien dapat mengalami perdarahan pada kulit, hidung, dan gusi, serta perdarahan saluran pencernaan. Pada kondisi paling parah, penyakit ini dapat menyebabkan kegagalan organ.

Pasien memerlukan perawatan intensif dan harus diisolasi karena penyakit ini sangat mudah menular.

Sebagian besar perawatan di unit perawatan intensif (ICU) berfokus pada menjaga fungsi-fungsi vital tubuh pasien. Selain itu, pasien biasanya diberikan obat antivirus ribavirin. Namun, menurut Emmerich, "ribavirin tidak terlalu efektif pada pasien yang sudah mengalami kondisi akut." Para ilmuwan melihat hal ini secara langsung dari kasus-kasus yang terjadi di Kosovo.

Karena itu, pencegahan merupakan langkah terbaik. Inilah sebabnya pemantauan penyebaran kutu Hyalomma sangat penting, termasuk memberikan rekomendasi kepada masyarakat untuk menghindari daerah-daerah yang diketahui banyak terdapat kutu tersebut jika memungkinkan.

Strategi pengendalian kutu yang berhasil

Selama bertahun-tahun, para peneliti tidak hanya mengumpulkan ribuan kutu, tetapi juga melakukan penelitian yang disebut studi seroprevalensi. Penelitian ini menggunakan tes darah untuk mencari antibodi dari infeksi yang pernah terjadi sebelumnya.

Melalui metode ini, para ilmuwan dapat mengetahui apakah manusia atau hewan pernah terpapar virus tersebut.

Menurut Sherifi, hewan ternak sangat cocok digunakan dalam penelitian semacam ini karena virus tersebut tidak menyebabkan penyakit pada mereka. Selain itu, berbeda dengan hewan liar dan manusia, hewan ternak biasanya berada di wilayah yang jelas dan terbatas.

Artinya, jika antibodi ditemukan dalam darah hewan ternak, dapat dipastikan bahwa virus sedang beredar di daerah tersebut.

Di Kosovo, jumlah infeksi serius telah menurun drastis dalam satu dekade terakhir, dengan total hanya lima kasus. Sebagai perbandingan, pada dekade sebelumnya terdapat sekitar 100 kasus.

Sherifi dan Emmerich meyakini bahwa penurunan ini menunjukkan keberhasilan besar dari upaya yang telah mereka lakukan.

Namun, bukan berarti kutu maupun virus tersebut tidak akan terus menyebar di Eropa. Kedua peneliti justru memperkirakan penyebaran tersebut akan terus terjadi.

Baru-baru ini, kutu Hyalomma yang membawa virus Krimea-Kongo terdeteksi di Prancis. Meski demikian, hingga saat ini belum ada manusia yang terinfeksi di negara tersebut.

"Dalam 13 tahun terakhir, kutu Hyalomma telah menyebar ke wilayah geografis yang lebih luas," kata Emmerich. "Sebagai ahli virologi, hal ini perlu menjadi perhatian dan harus dipantau secara ketat."

Karena itu, para ilmuwan Jerman dan Kosovo juga berupaya membagikan pengetahuan dan pengalaman mereka kepada negara-negara yang belum memiliki banyak pengalaman dalam memantau kutu Hyalomma, seperti Masedonia Utara dan Albania. (Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Jerman/Diadaptasi oleh Hani Anggraini/Editor: Yuniman Farid)/dw.com/id. [*]

* Julia Vergin Editor senior dan pemimpin tim Science online.


TAGS :


Komentar Facebook

Tuliskan Komentar dengan account Facebook

Kembali Ke halaman Utama

Berita Lainnya:

IMG_20260827_113028_compress46.jpg

Klaim Profesor hingga Dokter Spesialis di TikTok Disorot, Rekam Jejak Akademik Dipertanyakan

🔖 NASIONAL 👤Radar Medan 🕔17:40:04, 26 Agu 2026

RADARMEDAN.COM — Aktivitas seorang perempuan yang menggunakan sejumlah nama akun dan mencantumkan berbagai gelar akademik serta profesi kedokteran di media sosial TikTok menjadi perhatian publik. Perempuan yang disebut bernama Nurlian Galingging itu diketahui tampil dengan sejumlah gelar, di antaranya profesor, dokter spesialis . . .

Berita Selengkapnya
dilaporkan1.jpg

Buntut Eksekusi Paksa Chapel, Pdt. Gloria Resmi Polisikan Rektor USU ke Polda Sumut, Ini Jawaban USU

🔖 UMUM 👤Radar Medan 🕔08:32:11, 12 Agu 2026

RADARMEDAN.COM – Konflik seputar pengosongan fasilitas Chapel Oikumene Universitas Sumatera Utara (USU) memanas dan berujung ke ranah hukum pidana. Menyusul eksekusi pengosongan oleh pihak kampus pada Senin (10/8/2026), Pdt. Gloria Iriany Balle, S.Th., M.Div., resmi melaporkan Rektor USU beserta sejumlah pihak ke Sentra Pelayanan Kepolisian . . .

Berita Selengkapnya
pemain_Brasil_dan_Maroko.jpg

Brasil Dipaksa Maroko Bermain Imbang Sampai Turun Minum di Grup C Piala Dunia FIFA 2026

🔖 OLAHRAGA 👤Syaiful W Harahap 🕔06:09:28, 14 Jun 2026

RADARMEDAN.com – Juara lima kali Piala Dunia FIFA, Brasil, ditahan Maroko bermain imbang 1-1 sampai turun minum di Grup C Piala Dunia FIFA 2026 yang berlangsung pagi ini, 14/6/2026, pagi WIB di New Jersey Stadium, New York City, New York, Amerika Serikat (AS). Timnas Negeri Samba justru duluan tertinggal 0-1 sampai turun minum ketika di . . .

Berita Selengkapnya
5JT.jpg

Polda Sumut Bongkar Live TikTok Bermuatan Pornografi, Host Raup Rp5 Juta per Hari

🔖 HUKUM DAN KRIMINAL 👤Radar Medan 🕔21:06:51, 11 Jun 2026

RADARMEDAN.COM – Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) dan Pemberantasan Perdagangan Orang (PPO) Polda Sumatera Utara mengungkap kasus dugaan tindak pidana penyiaran dan penyediaan konten bermuatan pornografi melalui siaran langsung (live streaming) di platform TikTok. Direktur Reserse PPA dan PPO Polda Sumut, Kombes . . .

Berita Selengkapnya
Tim_Hukum_MUKI.jpg

USU Dinilai Kebablasan, Tim Hukum MUKI Sumut Desak Menag Turun Tangan Urus Polemik Gereja POUK

🔖 UMUM 👤Radar Medan 🕔17:05:29, 26 Mei 2026

RADARMEDAN.COM – Gelombang perlawanan jemaat terhadap rencana pengosongan paksa Gedung Gereja Oikoumene (POUK) Universitas Sumatera Utara (USU) makin memanas paska terbitnya surat pengosongan yang kedua. Buntunya komunikasi dengan pihak kampus membuat Tim Hukum Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI) Sumatera Utara menolak keras surat . . .

Berita Selengkapnya
eselon.jpg

Lantik Eselon II, III dan IV, Rico Waas Beri Deadline 6 Bulan bagi Pejabat Baru Untuk Tunjukkan Peru

🔖 BERITA KOTA 👤Radar Medan 🕔18:53:21, 16 Apr 2026

RADARMEDAN.COM - Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, secara resmi melantik sejumlah pejabat eselon II, III dan IV di lingkungan Pemko Medan, Kamis (16/4/2026). Dalam pelantikan yang berlangsung di Balai Kota ini, Rico Waas memberikan peringatan keras berupa tenggat waktu (deadline) selama enam bulan bagi para pejabat yang baru dilantik . . .

Berita Selengkapnya
provokasi.jpg

Waspada Penunggang Gelap di Balik Isu Babi: Jangan Kasih Celah Mafia Narkoba Obok-obok Medan!

🔖 OPINI 👤Radar Medan 🕔11:55:43, 01 Mar 2026

RADARMEDAN.COM - Belakangan ini, tensi di Kota Medan lagi naik gara-gara polemik Surat Edaran (SE) Wali Kota soal penataan daging non-halal. Dari aksi ribuan massa di Balai Kota sampai munculnya gerakan tandingan, suasananya jadi makin "panas". Tapi tunggu dulu, warga Medan jangan mau cuma jadi penonton yang gampang disulut. Kita harus . . .

Berita Selengkapnya
demo11.jpg

Ribuan Massa Kepung Balai Kota Medan, Wali Kota Rico Waas Akhirnya Tarik SE Dagang Babi

🔖 BERITA KOTA 👤Radar Medan 🕔20:01:13, 26 Feb 2026

RADARMEDAN.COM - Gelombang protes ribuan masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Solidaritas Pedagang dan Konsumen Daging Babi Kota Medan memadati depan Kantor Wali Kota dan gedung DPRD Medan, Kamis (26/2/2026). Massa menuntut pencabutan Surat Edaran (SE) Wali Kota Medan yang dinilai diskriminatif dan mengancam keberlangsungan usaha pedagang . . .

Berita Selengkapnya
setneg.jpg

Langgar Aturan, Ini Daftar 28 Perusahaan yang Dicabut Izin Usai Ratas Dipimpin Presiden

🔖 NASIONAL 👤Radar Medan 🕔21:39:16, 20 Jan 2026

RADARMEDAN.COM, JAKARTA - Pemerintah menegaskan komitmennya dalam menata dan menertibkan kegiatan ekonomi berbasis sumber daya alam. Komitmen tersebut ditunjukkan dengan pencabutan izin terhadap puluhan perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran di kawasan hutan. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa Presiden Prabowo . . .

Berita Selengkapnya
bws3.jpg

Bantuan untuk Pengendalian Banjir, Rico Waas: Dana Bank Dunia Rp 1,5 Triliun Dikelola Oleh BWS

🔖 BERITA KOTA 👤Radar Medan 🕔18:09:37, 03 Des 2025

RADARMEDAN.COM - Walikota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas angkat bicara terkait dana bantuan dari Bank Dunia sebesar Rp 1,5 triliun untuk program pengendalian banjir di Kota Medan. Ia membantah bahwa Pemerintah Kota (Pemko) Medan mengelola dana batuan tersebut.  Rico menjelaskan bahwa realisasi dana bantuan tersebut, mengelola adalah Balai . . .

Berita Selengkapnya

Berita Utama

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami.

Jejak Pendapat

Bagaimana pandangan anda atas Pilkada 2024?
  Tidak Ada Pilihan
  Tidak Puas
  Puas