Tinjau Sejumlah TPS, Lom Lom Suwondo Pastikan Pilkades Berjalan Aman dan Lancar
Dinkes Medan Buka Ruang Kemitraan dengan PWPM untuk Penyebaran Informasi Publik
Meriahkan HUT Medan, Zakiyuddin Harahap Dukung Penuh Turnamen Padel Untuk Semua
Sambut Hangat Pengurus Aisyiyah, Rico Waas Dukung Tabligh Akbar Milad ke-109
Bobby Nasution Ajak Kolaborasi Total Berantas Narkoba, Siap Dukung Anggaran BNNP
Pemkab Taput Gelar Monitoring 5 Kategori Desa Percontohan PKK Tingkat Provinsi
PRSU Ke-50 Targetkan 300 Ribu Pengunjung, Jadi Momentum Penguatan Ekonomi Kreatif dan Pariwisata
Wagub Surya Sambut Menteri BKKBN di Kualanamu, Perkuat Program Bangga Kencana di Sumut
Kisruh Akomodasi AFF U-19, Sekda Medan Tegaskan PSSI Bertanggung Jawab Penuh
Saksikan Kemenangan 3-0 Timnas U-19, Kekompakan Rico Waas–Zakiyuddin Curi Perhatian di Stadion Utama
Eksklusif Pdt. Gloria Iriany Balle: Kami Tak Anti Pembangunan, Tapi Jangan Rampas Hak Ibadah
Random Video
- Ini Video Penampakan Kota Medan Pasca 12 Jalan Ditutup Untuk Minimalisir Pergerakan Masyarakat
- Eksklusif Pdt. Gloria Iriany Balle: Kami Tak Anti Pembangunan, Tapi Jangan Rampas Hak Ibadah
- Vidio Banjir di Desa Bandar Durian Kecamatan Aek Natas Kabupaten Labuhanbatu Utara (Jumat, 24 Juli 2020)
- Warung Mie Aceh di jalan suka mulia terbakar
- Warga Natuna Minta WNI dari Wuhan, China Dikarantina Ditengah Laut dalam KRI
RADARMEDAN.COM – Di tengah pusaran polemik dan ancaman pengosongan paksa Gedung Gereja Oikoumene (POUK) Universitas Sumatera Utara (USU), Gembala Sidang Pdt. Gloria Iriany Balle, S.Th., M.Div., akhirnya angkat bicara secara terbuka.
Dalam sebuah sesi wawancara eksklusif Radarmedan.com, sosok yang telah puluhan tahun menggembalakan jemaat di area kampus tersebut membongkar tabir keresahan umat yang merasa diintimidasi di tempat ibadah mereka sendiri.
Wawancara memperlihatkan ketegaran sekaligus kesedihan Pdt. Gloria melihat rumah doa tempat jemaat bernaung kini dihadapkan pada ancaman eksekusi berbalut dalih renovasi.
Ia secara tegas menyayangkan sikap Rektorat USU yang cenderung represif dengan menebar surat peringatan, bukannya membuka ruang musyawarah.
"Sebagai gembala, saya sangat menyayangkan tindakan yang berujung pada penutupan dan rencana pengosongan sepihak ini. Jemaat sejatinya tidak pernah menutup mata atau menentang niat baik dari pihak kampus terkait perbaikan fasilitas. Namun, cara-cara paksaan seperti ini sangat mencederai rasa keadilan jemaat," ungkap Pdt. Gloria.
Ia menekankan bahwa konflik yang membelit Gereja POUK USU bukanlah sekadar sengketa fisik bangunan atau aset tanah semata, melainkan menyangkut kebebasan mendasar jemaat untuk melaksanakan ibadah dengan tenang dan damai.
"Tindakan intimidasi seperti pemagaran seng, pencopotan spanduk oleh satpam, hingga ancaman penertiban, menurutnya sangat tidak mencerminkan wajah kaum intelektual di sebuah institusi pendidikan tinggi," ucapnya.
Iya juga menyayangkan adanya upaya intimidasi oleh oknum yang masuk hngga ke kamar pribadinya seraya mengusirnya.
Lebih lanjut, Pdt. Gloria menyoroti akar masalah yang ditengarai bermula dari konflik internal kepengurusan, yang kemudian merembet dan dimanfaatkan untuk memuluskan agenda pengosongan. Ia pun mendesak semua pihak, terutama Rektorat USU, untuk menanggalkan arogansi dan kembali pada pendekatan yang humanis.
"Masalah internal ini seharusnya bisa diselesaikan dengan duduk bersama, dari hati ke hati, tanpa harus mengekang kebebasan umat beragama. Kami berharap pihak rektorat maupun oknum-oknum terkait dapat membuka mata. Mari kita selesaikan masalah ini dengan mengedepankan dialog dan semangat kasih Kristus, bukan dengan ancaman," ucapnya penuh harap.
Pdt. Gloria juga menegaskan bahwa jemaat dan majelis POUK akan tetap bertahan secara damai untuk mempertahankan hak ibadah mereka. Ia percaya bahwa kebenaran dan keadilan akan menemukan jalannya, asalkan pihak-pihak yang memiliki otoritas bersedia memfasilitasi penyelesaian ini secara transparan, berkeadilan, dan lepas dari intervensi kelompok tertentu.
Kini, publik dan ribuan jemaat menanti, akankah suara lirih namun tegas dari sang gembala ini mampu mengetuk pintu hati para petinggi di Rektorat USU.(HM)
